Rupiah Menguat ke Rp 17.776 usai Proyeksi Bank Dunia soal Ekonomi RI Tumbuh 5,0% di 2026

Rupiah Menguat.

JAKARTA (jakartamail.id) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.921 pada Jumat, 12 Juni 2026. Posisi rupiah itu menguat 60 poin dari kurs sebelumnya di level 17.981 pada perdagangan Kamis, 11 Juni 2026.

Bacaan Lainnya

Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 15 Juni 2026 hingga pukul 09.04 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.776 per dolar AS. Posisi itu menguat 84 poin atau 0,47persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.860 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Bank Dunia (World Bank) merevisi ke atas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,0 persen pada 2026.

“Proyeksi terbaru ini lebih tinggi dibandingkan dengan estimasi mereka pada April 2026 lalu, yang mematok laju produk domestik bruto di level 4,7 persen,” kaya Ibrahim dalam riset hariannya, Senin, 15 Juni 2026.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen untuk tahun ini mencerminkan kinerja perekonomian pada kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan.

Momentum positif mendorong pertumbuhan PDB hingga mencapai 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, menjadi pertumbuhan kuartalan paling tinggi sejak kuartal II-2021.

Kuatnya pertumbuhan di awal tahun tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih menjadi pendorong utama. Konsumsi tersebut didorong momen bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, pembayaran THR pegawai negeri sipil yang dipercepat, serta akselerasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sepanjang tahun 2026, konsumsi swasta diperkirakan akan terus bertumbuh di kisaran 5,0 persen, yang didukung oleh stimulus fiskal pemerintah. Sementara itu, konsumsi pemerintah diproyeksikan mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi lagi, yakni mencapai 8,7 persen. Dari sisi investasi, pembentukan modal tetap bruto pada kuartal I-2026 juga tercatat bertumbuh solid sebesar 6,0 persen

Kendati proyeksi dikerek naik, Bank Dunia memberikan catatan bahwa ketergantungan pemerintah terhadap konsumsi sebagai penyangga pertumbuhan jangka pendek ini tetap disertai risiko.

Risiko tersebut tidak terlepas dari kondisi ruang fiskal yang kian terbatas, serta beban subsidi eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak global. Selain itu, ketahanan ekonomi domestik juga diuji oleh guncangan sentimen pasar keuangan menyusul pengumuman evaluasi indeks MSCI.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.860-Rp 17.910,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *