JAKARTA (jakartamail.id) Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengevaluasi efek perjanjian perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA), sambil menggali potensi ekonomi yang muncul dari sektor industri yang terdampak.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan “Free Trade Agreements on Indonesia Industrialization and Economic Perforamance”.
“Bulan September ke depan, kami ubah pendekatan Kemenkeu dari potensi ekonomi, termasuk free trade, agar pertumbuhan ekonomi bisa melaju kencang minimal di 6 persen di akhir 2026,” kata Purbaya dalam keterangannya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dia mengaku ingin melakukan pemetaan berdasarkan dampak nyata terhadap masing-masing industri. Industri yang tidak memiliki prospek perlu diidentifikasi, sementara sektor yang masih bisa diselamatkan harus mendapatkan strategi yang tepat.
Purbaya juga menyoroti industri baru yang saat ini belum menjadi kekuatan utama Indonesia, tapi memiliki prospek pertumbuhan tinggi seperti misalnya data center.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik investasi pusat data, tetapi pemerintah harus memastikan ketersediaan energi untuk mendukung perkembangan industri tersebut.
Selain itu, Purbaya juga melihat peluang dari kerja sama perdagangan Indonesia dengan Eropa, khususnya terkait produk yang menggunakan energi baru terbarukan. Dia menilai fasilitas perdagangan tersebut dapat menjadi peluang bagi industri Indonesia, untuk meningkatkan daya saing ekspor.
Purbaya mencontohkan sektor tekstil dan alas kaki, yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari penggunaan energi terbarukan dalam proses produksinya. Dia juga membuka kemungkinan memperkuat investasi energi panas bumi melalui PT Geo Dipa Energi, untuk mendukung kawasan industri.
“Saya kan punya Geo Dipa, saya bisa drill lebih banyak geotermal, saya investasi di situ untuk memberi energi ke suatu pusat industri tekstil atau industri tekstil yang sudah ada, sehingga dia bisa ekspor ke Eropa dengan lebih kompetitif,” ujar Purbaya.
Dia menyampaikan, pendekatan tersebut menggarisbawahi bahwa pemerintah perlu menemukan sektor mana yang memiliki peluang untuk berkembang, untuk kemudian menentukan intervensi yang diperlukan.
Purbaya juga melihat, tantangan perdagangan bebas bukan semata-mata persoalan ancaman bagi industri dalam negeri. Justru menurutnya, FTA harus dimanfaatkan untuk mengidentifikasi peluang baru, meningkatkan daya saing industri, memperkuat energi, menarik investasi, serta mendorong ekspor bernilai tambah.






