Dukung Ekosistem Biodiesel Indonesia, Pertamina Tekankan Pentingnya Peran Logistik Maritim

JAKARTA (jakartamail.id) – Pertamina melalui PT Pertamina Marine Solutions (PMSol) menegaskan pentingnya peran logistik maritim, guna memastikan distribusi biodiesel menjangkau berbagai wilayah Indonesia dengan karakter geografis sebagai negara kepulauan.

 

Bacaan Lainnya

PMSol diketahui turut hadir melalui booth bersama PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) Group, dalam gelaran ‘6th Palm Biodiesel Conference 2026’ yang berlangsung di Bali beberapa waktu lalu.

 

Direktur Pemasaran PT Pertamina Trans Kontinental, Albertus Anto Budi Santosa mengatakan, saat produk biodiesel sudah tersedia, maka pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana memastikan produk tersebut dapat sampai ke wilayah yang membutuhkannya, terutama di negara kepulauan seperti Indonesia.

 

“Di sinilah logistik maritim menjadi sangat penting,” kata Albertus dalam keterangannya, Senin, 28 September 2026.

Hal itu disampaikan Albertus dalam materi bertajuk “Supporting Maritime Logistics for Biodiesel Distribution Across Indonesia: The Role of Integrated Marine Operations in Connecting Supply Across an Archipelagic Nation”, saat menjadi pembicara di gelaran ‘6th Palm Biodiesel Conference 2026’ tersebut.

 

Menurutnya, distribusi energi di Indonesia membutuhkan konektivitas yang luas antara kapal, terminal, depot, dan berbagai titik penerima di seluruh wilayah. Karenanya, PTK sebagai bagian dari ekosistem Integrated Marine Logistics Pertamina Group, berperan dalam menghubungkan kapal dengan terminal melalui berbagai aktivitas marine dan port operations.

 

Albertus menjelaskan, peran itu mencakup berbagai aktivitas mulai dari pilotage, bantuan tugboat, mooring and unmooring, hingga koordinasi dengan fasilitas pelabuhan. Seluruh aktivitas itu ditujukan untuk memastikan konektivitas maritim berjalan secara aman, efisien, dan konsisten.

 

Dalam presentasinya, Albertus juga menjelaskan perjalanan PTK dalam mendukung distribusi biodiesel di Indonesia. PTK telah berkontribusi dalam aspek maritim sejak implementasi awal program B2.5 pada 2008.

 

Peran tersebut kemudian berkembang pada 2019 dengan pengelolaan FAME Floating Storage dan Ship-to-Ship (STS) Operation di Balikpapan, seiring meningkatnya kebutuhan distribusi biodiesel dan persiapan menuju B30.

 

Pada periode 2019 hingga 2026 year-to-date (ytd), operasi tersebut mencatat sekitar 1.192 kunjungan kapal pemasok dan 3.829 kunjungan kapal pengangkut. Dalam skema tersebut, PTK mengelola Floating Storage dan operasi STS, yang didukung koordinasi maritim, bantuan tugboat, penempatan kapal, mooring, transfer kargo, monitoring, serta aspek HSSE.

 

Menurut Albertus, keberhasilan distribusi biodiesel tidak dapat bergantung pada satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara produsen, operator maritim, perusahaan downstream, terminal, regulator, dan berbagai stakeholder lainnya.

 

“Kami memahami bahwa tidak ada satu perusahaan yang dapat mengelola seluruh ekosistem biodiesel sendirian. Dibutuhkan kerja sama antara produsen, operator maritim, perusahaan downstream, terminal, regulator, dan berbagai stakeholder lainnya,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *