IHSG Menghijau Cenderung Sideways, Bursa Asia & Wall Street Lesu Tertekan Harga Minyak

JAKARTA (jakartamail.id) – IHSG dibuka menguat 8 poin atau 0,13 persen di level 6.154 pada pembukaan perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026.

Head of Retail Research Analyst, Fanny Suherman memprediksi, IHSG berpotensi sideways alias datar pada perdagangan hari ini.

Bacaan Lainnya

“IHSG berpotensi sideways hari ini,” kata Fanny dalam riset hariannya, Kamis, 8 Oktober 2026.

[Ilustrasi] IHSG Merah
Bursa Asia melemah pada perdagangan Rabu kemarin, tertekan kenaikan harga minyak mentah yang kembali menembus US$100/bbl serta yield US Treasury yang bertahan di level tinggi.

 

Pelemahan di Asia dipimpin bursa Singapura dan Korea Selatan. Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 0,9 persen, Topix melemah 0,7 persen. Di Korea Selatan, indeks Kospi dan Kosdaq anjlok masing-masing 2 dan 2,3 persen.

Sementara, ASX 200 Australia turun 0,1 persen, dan Hang Seng Hong Kong melemah 0,6 persen yang tertekan penurunan sekitar 4 persen pada indeks saham bioteknologi. Sementara pasar keuangan China daratan masih tutup karena libur.

Harga minyak kembali berada di atas US$100 per barel, setelah badai yang menuju wilayah produksi minyak Amerika Utara dan serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.

“Support IHSG berada di level 6.100-6.120 sementara resist IHSG di rentang 6.200-6.250,” ujarnya.

Sebagai informasi, Wall Street ditutup melemah pada Rabu kemarin, setelah kenaikan yield US Treasury tenor panjang kembali menekan pasar saham. Yield Treasury 30Y bahkan menyentuh level tertinggi, memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi dan beban utang yang meningkat.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,66 persen, S&P 500 turun 0,22 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,22 persen. Tekanan terhadap saham meningkat setelah harga minyak Brent kembali bertahan di atas US$100/bbl.

Kenaikan harga minyak akibat kekhawatiran pasokan terkait perang Iran memperbesar risiko inflasi dan mendorong kekhawatiran bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *