JAKARTA (jakartamail.id) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.880 pada Rabu, 7 Oktober 2026. Posisi rupiah itu menguat 30 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.910 pada perdagangan Selasa, 6 Oktober 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 8 Oktober 2026 hingga pukul 09.03 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.867 per dolar AS. Posisi itu menguat 20 poin atau 0,11 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.887 per dolar AS.

Perkembangan posisi cadangan devisa September 2026 tersebut dipengaruhi terutama oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.
Posisi cadangan devisa pada akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal, serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai, serta aliran masuk modal asing. Hal itu sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
BI juga terus meningkatkan sinergi dan bauran ekonomi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal, guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.880—Rp 17.930,” ujarnya.
Sebagai informasi, dalam perkembangan terbaru terkait krisis Timur Tengah, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman menyatakan telah melancarkan 3 operasi militer menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak (drone) yang menyasar bandara, fasilitas minyak, serta lokasi militer di seluruh wilayah Arab Saudi.
Iran terlihat meningkatkan intensitas serangan di Selat Hormuz selama sepekan terakhir. Iran berulang kali menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap tertutup bagi pelayaran sampai AS memenuhi tuntutan mereka, serta memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan rute yang didukung AS saat melintasi selat tersebut.
Hubungan AS-Iran tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan, menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump pada hari Selasa, bahwa tidak ada yang tahu siapa yang sebenarnya memimpin Iran di tengah konflik delapan bulan antara AS-Israel dan Iran.
“Para pemimpin mereka sudah tidak ada, jajaran pemimpin lapis kedua mereka juga sudah tidak ada, dan masalah terbesarnya adalah tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang menjalankan negara itu,” kata Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran pada hari Minggu menyatakan bahwa Washington sangat memahami siapa pihak lawan bicara mereka di Iran serta bagaimana sistem pengambilan keputusan di negara tersebut bekerja.






