JAKARTA (jakartamail.id) — PT PLN Nusantara Power (PLN NP) sukses membukukan capaian positif dalam mendukung transformasi sistem ketenagalistrikan rendah emisi di tanah air.
Sepanjang semester I tahun 2026, pelaksanaan program reduksi emisi melalui metode cofiring biomassa di jaringan pembangkit perusahaan mampu memproduksi energi hijau sebesar 490,5 Gigawatt hour (GWh).
Substitusi bahan bakar ini juga berdampak linier terhadap penurunan tingkat pencemaran udara secara signifikan.
Hingga akhir Juni 2026, pemanfaatan biomassa sebagai campuran bahan bakar batu bara pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) eksisting milik PLN NP berhasil memangkas emisi karbon hingga mencapai 590,9 ribu ton CO2e.
Direktur Utama PLN Nusantara Power, Ruly Firmansyah, menjelaskan bahwa teknik cofiring menjadi salah satu strategi transisi energi paling taktis karena dapat dieksekusi secara bertahap tanpa perlu merombak total infrastruktur mesin yang sudah beroperasi.
“Melalui program ini, kami berupaya mengoptimalkan aset pembangkit eksisting agar dapat menghasilkan energi yang lebih bersih tanpa mengurangi keandalan pasokan listrik nasional. Ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam mendukung target Net Zero Emissions Indonesia,” ujar Ruly dalam keterangan resminya, Kamis (16/7/2026).
Performa yang ditunjukkan pada paruh pertama tahun ini melanjutkan tren pertumbuhan hijau yang telah dirintis PLN NP pada tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2025 lalu, komersialisasi cofiring biomassa telah diterapkan secara masif di 25 unit PLTU dengan total produksi energi bersih menyentuh 1.041 GWh, serta berkontribusi menekan emisi sebesar 1,17 juta ton CO2e.
Metode cofiring bekerja dengan cara mencampurkan bahan baku hayati langsung ke dalam tungku pembakaran batu bara. Implementasi terukur pada 25 PLTU tersebut menjadi bukti nyata bahwa dekarbonisasi sektor hulu ketenagalistrikan dapat berjalan beriringan dengan pemeliharaan stabilitas setrum masyarakat.
Di samping menghadirkan manfaat perbaikan kualitas lingkungan, program pencampuran biomassa ini membuka ruang ekonomi baru bagi ekosistem lokal di sekitar area operasional pembangkit. Pengadaan bahan baku memerlukan pelibatan aktif dari masyarakat dan pelaku usaha daerah.
Rantai pasok bahan bakar alternatif ini memanfaatkan berbagai sumber daya hayati lokal yang melimpah, antara lain:
- Produk sampingan sektor pertanian dan perkebunan.
- Sisa limbah industri kehutanan.
- Pemanfaatan sampah organik yang diolah menjadi bahan bakar padat.
Pola serapan ini secara tidak langsung meningkatkan nilai ekonomi komoditas sisa dan mendorong terciptanya konsep ekonomi sirkular regional.
Menatap sisa tahun berjalan, PLN Nusantara Power berkomitmen untuk terus memacu efektivitas rantai pasok pasokan bahan baku serta memperkuat kolaborasi kemitraan hulu-hilir demi menjaga pasokan energi ramah lingkungan yang berkelanjutan.





