Rupiah Dibuka Menguat di Rp 17.992 Meski Dibayangi Laporan Fitch Ratings soal Rapuhnya Ekonomi Makro RI

JAKARTA (jakartamail.id) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup menguat pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.999 pada Senin, 6 Juli 2026. Posisi rupiah itu melemah 39 poin dari kurs sebelumnya di level 17.960 pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026.

Bacaan Lainnya

Sementara perdagangan di pasar spot pada Selasa, 7 Juli 2026 hingga pukul 09.02 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.992 per dolar AS. Posisi itu menguat 3 poin atau 0,02 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.995 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar merespon negatif laporan terbaru Fitch Ratings yang menyoroti rapuhnya kondisi ekonomi makro Indonesia, yang terlihat dari indikator pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, hingga arus modal keluar yang masif.

“Namun, perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi,” kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa, 7 Juli 2027.

Ujungnya, lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah, sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dan prospek (outlook) direvisi menjadi negatif.

Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026, sekaligus mengakhiri tren surplus selama 72 bulan beruntun.

Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi, untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik. Sebagai bagian dari strategi stabilisasi, intervensi dilakukan secara berkesinambungan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Bank sentral juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar, untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.990-Rp 18.050,” ujarnya.

Sebagai informasi, tensi geopolitik terus memanas, setelah rentetan rudal dan drone Rusia menghujani Ibu kota Ukraina, Kyiv kemarin pagi. Serangan terbaru Moskow ini terjadi menjelang pertemuan puncak atau KTT NATO di Turki, yang rencananya akan dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump.

Ledakan terdengar di seluruh pusat kota dan orang-orang masih terjebak di gedung-gedung apartemen bertingkat yang rusak, sementara serangan gabungan yang melibatkan rudal balistik dan drone terus berlanjut.

Selain itu, meskipun pasokan fisik terus pulih, risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama. Para pedagang mempertimbangkan sinyal yang saling bertentangan dari Washington dan Teheran, mengenai keamanan dan tata kelola jalur air strategis di masa depan setelah Donald Trump mengatakan Iran telah menyetujui “hampir semua yang kita butuhkan”.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *