Rupiah Kembali Anjlok ke Rp 17.896 usai BI Rate Ditahan di 5,75% demi Jaga Stabilitas Nilai Tukar

[Rupiah]

JAKARTA (jakartamail.id) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.

 

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.803 pada Rabu, 23 September 2026. Posisi rupiah itu menguat 80 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 17.883 pada perdagangan Selasa, 22 September 2026.

Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 24 September 2026 hingga pukul 09.08 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.896 per dolar AS. Posisi itu melemah 78 poin atau 0,44 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.818 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50 persen.

 

Alasan utama BI Rate kembali dipertahankan adalah karena stabilitas kurs rupiah masih terus dijaga, sekaligus mendorong tren pertumbuhan ekonomi Indonesia sambil menekan inflasi.

 

BI juga akan terus memperkuat kebijakan insentif guna menarik aliran masuk modal asing. Langkah tersebut juga diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing.

 

Di sisi lain, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran akan tetap diarahkan untuk memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.

 

Sementara itu, Presiden Prabowo menyambut baik penyelesaian pembayaran kembali obligasi BLBI pemerintah senilai Rp 218 triliun kepada Bank Indonesia (BI) pada 24 Agustus 2026, yang menuntaskan kewajiban sejak masa krisis keuangan Asia tahun 1997–1998.

 

Kewajiban tersebut dibayarkan secara rutin melalui APBN. Dalam membayar seluruh kewajiban, pemerintah menggunakan skema Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang bersumber dari sisa surplus BI yang dihasilkan dari kegiatan operasional.

 

Penyelesaian utang ini dipandang sebagai tonggak sejarah penting bagi kebijakan makroekonomi Indonesia. Pemerintah melalui Menkeu Suahasil menekankan, proses panjang ini harus menjadi pembelajaran luar biasa dalam mengelola keuangan negara di masa depan agar terhindar dari krisis serupa.

 

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.810-Rp 17.860,” ujarnya.

 

Sebagai informasi, pada hari Selasa Presiden AS, Donald Trump mengatakan, para pejabat AS telah mengadakan pertemuan tiga jam yang “sangat baik” dan produktif dengan perwakilan Iran di New York, yang memunculkan harapan bahwa negosiasi pada akhirnya dapat membantu mengakhiri konflik dan meredakan gangguan di sekitar Selat Hormuz.

 

Pertemuan tersebut merupakan kontak langsung pertama antara pejabat AS dan Iran sejak bulan Juni 2026. Trump mengatakan bahwa utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, turut serta dalam pertemuan itu.

 

Laporan Reuters menunjukkan bahwa Iran telah mengisyaratkan kesediaan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jika Washington melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Meskipun, Teheran belum memastikan adanya kesepakatan tegas untuk melakukan hal tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *