Gelombang Migran Ilegal Serbu Ceuta, Menlu Jerman Desak Komisi Eropa Lindungi Perbatasan

JAKARTA (jakartamail.id) – Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, meminta Komisi Eropa untuk memprioritaskan perlindungan perbatasan eksternal Uni Eropa.

Hal itu menyusul masuknya migran ke wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, sebagaimana yang dilaporkan surat kabar Jerman Bild pada Minggu, 2 Agustus 2026.

Menlu Jerman mengatakan, negara-negara Eropa membutuhkan mitra eksternal, seperti Maroko, untuk mengendalikan migrasi ilegal. Eropa dilaporkan berhasil menghindari krisis migrasi besar, meskipun situasinya tetap tegang.

Sebelumnya pada akhir Juli 2026, Ceuta mencatat gelombang migran dalam jumlah besar dari Maroko. Pada Jumat, Walikota-Presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas mengatakan, sekitar 60.000 orang telah memasuki wilayah kota dari Maroko dalam satu hari.

Kerusuhan pecah di tengah krisis, dan menyebabkan dikerahkannya tambahan unit polisi, Garda Sipil, dan militer dikerahkan.

Diketahui, Ceuta adalah daerah kantong Spanyol di pantai utara Afrika, dan terletak di perbatasan dengan Maroko.

Bersama dengan Melilla, Ceuta membentuk satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika, dan dianggap sebagai jalur utama migrasi ilegal ke Uni Eropa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *