JAKARTA (jakartamail.id) – Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memberikan ultimatum kepada para pelaku usaha khususnya di sektor pertambangan, agar segera menggunakan biodiesel B50 dalam operasionalnya.
Dia mengakui bahwa sejak awal, ada banyak pelaku usaha yang merasa keberatan menggunakan B50 dengan alasan harga yang dinilai lebih mahal.
“Kami menyampaikan, awalnya pengusaha-pengusaha ini enggak mau pakai (B50) karena harganya katanya mahal,” kata Bahlil dalam peresmian Peluncuran Mandatori B50 yang digelar di Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.
Namun, Dia memastikan bahwa pemerintah terus melakukan pendekatan kepada berbagai perusahaan-perusahaan besar itu, terutama yang berada di sektor pertambangan.
Bahlil bahkan tak segan untuk meninjau kembali Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) perusahaan-perusahaan, yang tidak mendukung kebijakan nasional tersebut.
“Saya sudah bilang, kalau kalian enggak pakai B50, RKAB-nya saya tinjau. Jadi supaya tidak ada alasan-alasan,” ujarnya.
Bahlil bahkan menyebut sejumlah nama pengusaha yang hadir dalam acara peluncuran B50 tersebut.
“Sekarang kita sudah bicara pengusaha-pengusaha terutama pertambangan, ini ada Boy Thohir di sana, ada Astra, kemudian ada Pak Arsjad Rasyid,” kata Bahlil.
Pernyataan Bahlil itu pun langsung disambut perhatian para tamu yang hadir, dan menjadi penegasan bahwa pemerintah serius mendorong penggunaan biodiesel berbasis sawit di berbagai sektor industri.
Dia menegaskan, dirinya juga telah memberikan peringatan langsung kepada para pelaku usaha, agar mendukung implementasi B50 sebagai bagian dari kebijakan strategis pemerintah.
“Jadi kita harus pakai produk dalam negeri ini, jangan asing-asing terus. Ini jadi mereka sudah komit Bapak Presiden,” ujarnya.





