JAKARTA (jakartamail.id) – Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung menyatakan, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2026 yang tumbuh 5,29 persen, menunjukkan bahwa gairah perekonomian masih berjalan baik.
Terlebih, pertumbuhan ekonomi itu dibarengi dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) yang mencapai Rp 3.576,2 triliun, meningkat dari Rp 3.396,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pertumbuhan di triwulan II ini sedikit lebih rendah dibanding triwulan I, tetapi gairah ekonomi masih berjalan dengan baik,” kata Juda di Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Dia menambahkan, Purchasing Managers’ Index (PMI) telah menunjukkan ekspansi. Impor barang modal dan bahan baku pun menunjukkan kinerja yang meningkat. Berbagai indikator itu menurutnya menandakan bahwa aktivitas produksi dan investasi terus tumbuh.
Pemerintah pun meyakini target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 pada kisaran 5,6–6,0 persen masih dapat dicapai. Apalagi, berbagai stimulus pada semester II, termasuk di sektor manufaktur dan otomotif, diharapkan semakin memperkuat aktivitas ekonomi.
Optimisme tersebut juga didukung oleh terjaganya daya beli masyarakat. Juda menjelaskan, deflasi pada Juli 2026 bukan disebabkan melemahnya permintaan, melainkan dipengaruhi penurunan harga komoditas tertentu seperti bawang merah dan emas.
Dia menambahkan, kinerja perekonomian Indonesia juga ditopang oleh kondisi APBN yang tetap sehat dan kredibel. Beberapa indikator seperti pertumbuhan penerimaan negara, belanja negara, serta defisit yang terjaga, menandakan kondisi APBN tetap sehat dan prudent.
“Pengelolaan fiskal yang disiplin juga turut memperkuat kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia,” ujar Juda.
Hal itu tercermin dari tetap terjaganya peringkat kredit Indonesia serta tingginya minat investor terhadap instrumen pembiayaan pemerintah.
“Artinya kita mampu tumbuh tinggi tanpa mengorbankan stabilitas. Inflasi terjaga, fiskal tetap sehat, dan ekonomi tetap bertumbuh di atas 5 persen. Inilah yang menjadi dasar kepercayaan investor terhadap Indonesia,” ujarnya.
Menjelang penyampaian Nota Keuangan RAPBN Tahun Anggaran 2027, Wamenkeu Juda menegaskan bahwa pemerintah akan tetap menggunakan APBN sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kesinambungan fiskal.
Menurutnya, arah kebijakan fiskal tahun depan tetap bersifat ekspansif, namun dengan defisit yang makin terkendali.





