Rupiah Menguat ke Rp 17.915 usai Pengumuman soal Defisit APBN dan BI Rate

JAKARTA (jakartamail.id) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 17.909 pada Rabu, 22 Juli 2026. Posisi rupiah itu stagnan dari kurs sebelumnya di level yang sama pada perdagangan Selasa, 21 Juli 2026.

Bacaan Lainnya

Sementara perdagangan di pasar spot pada Kamis, 23 Juli 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 17.915 per dolar AS. Posisi itu menguat 2 poin atau 0,01 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.917 per dolar AS.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, APBN membukukan defisit sebesar Rp 196,5 triliun pada akhir Juni 2026 atau semester I-2026, setara dengan 0,76 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Sedangkan, pendapatan negara mencapai Rp 1.459,4 triliun per Juni 2026, atau setara dengan 46,3 persen dari target pendapatan negara sepanjang tahun ini sebesar Rp 3.153,6 triliun.

Sementara itu, belanja negara sudah mencapai Rp 1.656 triliun per Juni 2026, setara 43,1 persen dari target belanja negara sepanjang tahun ini yang sebesar Rp 3.842,7 triliun. Artinya, belanja negara masih lebih banyak dari pendapatan negara.

Sedangkan, target keseimbangan primer didesain defisit sebesar Rp 89,7 triliun atau sudah terlewati. Apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, maka tampak sedikit penurunan dalam defisit APBN tersebut.

Pada akhir Juni 2025, defisit APBN mencapai Rp 197 triliun atau setara 0,81 persen dari PDB. Artinya, defisit APBN Juni 2026 yang sebesar Rp 196,5 triliun turun 0,25 persen dibandingkan APBN Juni 2025. Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar Rp 689,1 triliun atau setara 2,68 persen terhadap PDB.

Bank Indonesia (BI) juga telah memutuskan untuk menahan BI-Rate di level 5,75 persen, suku bunga Deposit Facility tetap di 4,75 persen, dan suku bunga Lending Facility tetap di 6,50 persen.

Melalui keputusan menahan suku bunga acuan ini, BI mendorong kebijakan lain yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing ke pasar uang Indonesia, dalam rangka tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

BI juga memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas serta meningkatkan likuiditas.

“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.920-Rp 18.970,” ujarnya.

Sebagai informasi, pelaku pasar mempertimbangkan meningkatnya bentrokan militer antara AS dan Iran, dimana pasukan AS mengatakan mereka mulai menyerang target militer Iran untuk malam ke-11 berturut-turut pada hari Selasa, kemarin.

Serangan itu menargetkan lokasi peluncuran rudal dan drone, fasilitas komando dan kendali, sistem pertahanan udara, dan infrastruktur militer lainnya, seiring Washington mengintensifkan kampanyenya melawan Teheran. Teheran pun melanjutkan serangan balasan terhadap posisi militer AS di seluruh wilayah, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Selain itu, investor juga memantau gerakan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran, setelah mengancam blokade angkatan laut yang memengaruhi pengiriman yang terkait dengan Saudi di Laut Merah. Hal itu telah mendorong beberapa kapal tanker minyak untuk mengubah rute, dan menimbulkan kekhawatiran atas ekspor dari salah satu pemasok minyak mentah terbesar di dunia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *